Wednesday, July 12, 2006

The “Damn if you do, damn if you don’t’ question.

The times you feel honesty is golden, you might wanna rethink…maybe silence is the real gold.
for speaking what you really feel requires perfect timing, unless you’re ready to be haunted by the guilty feeling of letting someone’s feeling upset in the end of the conversation. Go ahead, pleasure yourself.

I am never a woman who enjoys politics, hide and seek, even monopoly.
I am a selfish women whose tongue slips once in a while, I get tired with the responsibilities on saying what people want to hear, still I manage my mind to think clearly, so clear that I understand the concept of the great “white lies” is probably the perfect attidude in a very complex situation.

I say what’s on my mind, yes it’s true. As a result, people might find me ridiculously offending. Though I never meant it the first time. What’s confusing me is, they never looked back those offending moment and rethink, or even ask, what’s my purpose and why. Because in all my quotations, there I said “should there be any questions regarding to the matter, please do not hesitate to inform me at your convenience” perfectly signed.

rather to lose any of my partners in life, i continue my attidude with a better coverage, be silent.
because, the bottom line is.. speaking truth requires deep deep appreciation, that is where i come wrong about the concept of understanding the big idea.

Friday, July 07, 2006

bhinneka cita cita

Ketika cita cita akhirnya Cuma jadi sebatas mimpi, mungkin ada baiknya kita berkaca dengan cermin yang exxxtra (x nya perlu sampai 3 memang) besar dan bertanya sesungguhnya sudahkah berusaha sampai konsep tidur bukan lagi sebuah kewajiban, masuk angin adalah makanan sehari-hari, dan menganggap jenuh adalah hal yang seharusnya terjadi?

Atau enaknya bgini, mari menganalisa sebuah kisah cita-cita

Tahap pertamanya,
Perlu adanya latar belakang yang jelas dalam memilih topik cita-cita yang dituju, penjelasan detil menggunakan sub-sub bab layaknya menulis ulang skripsi yang berjudul “cita-citaku“, ada rekomendasi dari cita-cita lainnya yang sudah tercapai sebagai masukan, mungkin bisa melihat dari kisah sukses seorang donald trump (kalau bercita-cita jadi multimilioner), atau memakai sistem pendekatan door to door, mengetuk pintu-pintu (pintu hati juga bisa) dari mereka yang sudah terstempel “sukses meraih cita-cita“ dan melakukan interview hati ke hati sebagai bahan analisa.

Selanjutnya, harus diketahui SWOTnya (the damn SWOT shit!) apa strengthnya, weaknessnya, oppurtinitynya dan threatnyaaa (kali aja cita-citanya sudah dimonopoli orang lain)

Butuh diberi tenggat waktukah? Kita beri sajaa..
berapa lama? Sebulan, dua bulan, seminggu atau bahkan satu hari. Tergantung kompleksnya cita-cita yang ingin dicapai pastinya, apakah mulai dari “mentah“, atau sudah ada template yang tinggal diikuti, atau mungkin Cuma revisi sedikit. :p

bila semua sudah dilaksanakan, tinggal membuat kesimpulan akhir. Apakah cita-citanya sudah sesuai? sudah bisakah dipastikan dapat nilai A bila dilempar ke lapangan yang namanya realita? Atau ternyata setelah dipresentasikan ke dunia malah harus kembali jadi raw files yang akhirnya berbuntut dibedah total dengan konsep yang berubah?

Hum…. *elus elus dagu*
Apapun itu, yang penting prosesnya, disela-sela menggarap ide bertajuk cita-cita itu pastilah kita bertemu dengan si sahabat dekatnya kegagalan, namanya pengalaman. Yah sukur-sukur, dengan sedikit revisi sana-sini, retouch lebih lama, godok sampai sedikit gosong, bisalah menghasilkan “cita-cita” yang tepat sasaran, menang award sekaligus meningkatkan prosentase sales *acung-acung jempol*

Sesimpel itu kah sebuah cita-cita, ya bisa jadii.. *kedip mata genit*


Great dreamers’ dream are never fulfilled, they are always transcended
– Alfred lord whitehead-

Tuesday, July 04, 2006

MEMORI MANIS NIKMATNYA SEPERTI KOPI PAHIT

Hmm... rindunya saat kuliah lagi, ketika hidup cuma dihantui tugas-tugas nirmana yang begitu pentingnya hingga haruslah diadakan acara nginap bersama teman-teman sekelas ( sekarang sudah jadi sahabat terdekat) demi menuangkan cat poster 2 warna jadi gradasi sempurna 24 warna.

saat-saat ketika ujian akhir akan dimulai dan semua orang bukannya sibuk deg-degan menjalani ujiannya tapi malah sibuk membicarakan "ngapain nanti habis ujian!", masa dimana smua ujian diakhiri acara nginep-nginep yang sudah jadi rutinitas selesai ajang peras otak dan tenaga itu, si pantai carita dan matahari terbenamnya jadi saksi bercintanya berpuluh kepala yang menikmati taman liburan dengan lelucon garing dan miras hasil patungan.

ingatan akan masa itu memberi suntikan energi serupa kopi di pagi hari, mungkin tak akan bisa kembali lagi, tapi udara suasana kebersamaannya tidak pernah hilang, dan masih sangat mungkin diulang kembali, hanya kali ini bukan si asisten dosen nirmana galak yang jadi topik pembicaraan, tapi siapa yang akan menikah brikutnya... ahahahha...gelak tawanya tidak akan berubah.

aku sayang mereka semua.